Raden Dewi Sartika

05 Desember 2018 | Oleh : Administrator Website | Dilihat 58 kali

Kantun jujuluk nu arum
Kari wawangi nu seungit
Nyebar mencar sa Pasundan
Nyambuang sa Nusantara
Sari puspa wangi arum
Seungit manis ngadalingding
Sari sekar nyurup nitis
Kana sukma istri Sunda
Teu kagambar ku rumpaka 
Henteu kasanggi ku dangding
Menggahing jasa-jasana

Bandung yang kala itu terkenal dengan sebutan Paris van Java menjadi salah satu kegiatan kolonial Belanda setelah Batavia.rakyat Parahiyangan dan Jawa Barat hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Hal ini disebabkan mereka tidak pernah mengenyam pendidikan, kecuali beberapa orang anak pegawai Belanda atau golongan ningrat. Selain itu hasil bumi rakyat Indonesia dirampas untuk kepentingan penjajah Belanda.
Hal inilah yang membuat salah seorang putra Pasundan menjadi merenung. Beliau bernama Raden Somanagara putra Raden Adipati Aria Martanagara seorang Bupati Bandung ketika itu. Raden Somanagara adalah seorang patih di Bandung yang sangat Nasionalis. Beliau ditangkap dan diasingkan ke ternate (Maluku). Raden Somanagara menikah dengan Raden Ayu Rajapermas yang melahirkan seorang bayi bernama Raden Dewi Sartika. Penangkapan yang dilakukan oleh pihak Belanda membuat seluruh kaum kerabat dan keluarga menjadi gelisah terutama bagi Raden Ayu Rajapermas dan Adipati Martanegara. Hal ini dikarenakan pasangan Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas masih mempunyai anak kecil, atas saran keluarga Raden Ayu Rajapermas dengan berat hati menitipkan putri kecilnya kepada adik iparnya istri Aria Cicalengka yang tinggal di Cicalengka. Dewi lahir di Bandung, 4 Desember 1884, 

Dewi Sartika amat gigih dalam memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Pada 16 Januari 1904, dia mendirikan sekolah istri atau sekolah untuk perempuan di bandung. Pada tahun 1910, sekolah istri berganti nama menjadi sakola kautamaan istri.  Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid. Untuk mengatasinya, Sekolah Istri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Istri sedikit diperbarui menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga bertambah. 

Kemudian pada 1913, berdiri pula organisasi kautamaan istri di Tasikmalaya. Organisasi ini menaungi sekolah-sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika. Pada tahun 1929, Sakola Kautamaan Istri diubah namanya menjadi Sakolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dan dibangunkan sebuah gedung baru yang besar dan lengkap.

Dia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.

Pada tahun 1947, akibat agresi militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus malakukan perlawanan terhadap Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, tepatnya tanggal 11 september 1947, Dewi sartika yang sudah lanjut usia wafat di Cinean, Jawa Barat. Setelah keadaan aman, makamnya dipindahkan ke Bandung. Diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.


Lahir : 4 Deember 1884 di Cicalengka Bandung

Meninggal : 11 September 1947 di Kota Tasikmalaya

Pendidikan : Europeesche Lagere School

Pasangan : R.Kd.Agah Suriawinata

Orangtua : Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas


Dikutip oleh Pustakawan Madya Dispusipda Jabar, Tuty Juliaty

Artikel Terpopuler
15 Manfaat Membaca Buku dalam Kehidupan
15 Februari 2016 | Dilihat 11037 kali

Buku adalah jendela dunia, dan kegiatan membaca buku merupakan suatu…`

Alih Media Arsip
09 Juli 2015 | Dilihat 1167 kali

Tata cara alih media arsip berkaitan dengan aturan, kaidah, sistem…`

Peluang dan Tantangan dalam Penyelenggaraan Kearsipan di Jawa Barat
28 Desember 2017 | Dilihat 1015 kali

Oleh Abdur Rauf Hamidi, S.Ip, M.AP Arsiparis MudaDISPUSIPDA JabarDiera reformasi seperti…`

Facebook Page
Twitter Feed