Wayang dalam tari sunda

13 Desember 2018 | Oleh : Administrator Website | Dilihat 378 kali

Buku yang berjudul Wayang dalam tari sunda merupakan isi dari orasi ilmiah dalam pengukuhan jabatan Guru Besar pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, yang disampaikan Prof.Iyus Rusliana, S.S.T di depan sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung Tanggal 24 Juni 2008. Dalam Kamus Kawi –Indonesia, kata wayang berarti bayangan (Wojowasito, 1977:299). Adapun kata “wayang”, “hamayang” pada waktu dulu berarti: mempertunjukan “bayangan”, dan lambat laun menjadi pertunjukkan bayang-bayang, kemudian menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang (Mulyono, 1978:51). Menelusuri tentang pengaruh wayang dalam kesenian sunda, ternyata selalin terbentuknya tontonan menarik seni pedalangan wayang kulit dan wayang golek, juga mewujud dalam bentuk seni helaran yang lebih bersifat hiburan ketika perayaan-perayaan kenegaraan seperti badawang. Pada masa sebelum kemerdekaan, di kalangan masyarakat umum terdapat perkumpulan atau rombingan wayang wong Priangan antara lain di daerah Tarogong (Kabupaten Garut), Sukabumi dan beberapa daerah di wilayah Bandung. Selanjutnya pada akhir 1930-an di daerah Babakan Tarogong Kotapraja Bandung (Sekarang Kota Bandung) terdapat perkumpulan wayang wong atau perkumpulan wayang sunda yang dipimpin oleh Kayat dan terkenal dengan sebutan Wayang Wong Kayat. Latar belatar tumbuhnya tari-tarian wayang tidaklah semata-mata karena volume pertunjukan wayang wong mengalami penurunan. Melainkan tumbuh secara bertahap ketika kehidupan wang wong relatif stabil. Menelusuri keberadaan tari-tarian wayang hingga kini tetap terjaga meski tidak semarak seperti di masa sebelum tahun 80-an, baik disangga olehsanggar/grup atau perkumpulan tari Sunda maupun dijadikan bagian dari objek studi pada lembaga-lembag formal pendidikan seni tari. Tari-tarian wayang hanyalah mengungkapkan gambaran dari suatu kejadian dan bukan gambaran dari rangkaian kejadian, karean itu lepas dari gambaran kejadian sebelum dan sesudahnya. Pada prinsipnya isi cerita wayang mengandung makna sebagai tuntunan hidup dan pilihan hidup yang hendak dilakukan. Setiap tarian wayang memiliki struktur koreografi yang khas. Yang dimaksud dengan struktur koreografi disini adalah untuk menunjukkan suatu susunan atau suatu komposisi patokan gerak beserta pola iramanya. Dengan kata lain, bahwa secara konsepsional, struktur koreografi merupakan dua konsepsi struktur yaitu patokan gerak dan pola irama yang saling membentuk dan menghidupkan bagai “lok kereta api dan rangkaian gerbong, dengan relnya.  Adapun kiprah aktif yang menyangga kekayaan tarian wayang dan wayang wong Priangan sebagai bagian dari pemuliaan kesenian Sunda, adalah suatu keniscayaan. Begitu pula menjadi keniscayaan apabila para pengkaji terus

 

menerus melacaknya, dan para kreator terus menerus berkreasi untuk menciptakan tari-tarian wayang dan waya wong yang baru dan menarik.



Judul                              : Wayang dalam tari sunda

Pengarang                    : Iyus Rusliana

No. Panggil                   :  793.3 IYU w

Penerbit                         : Bandung STSI, 2008

Sumber                          : Koleksi Perpustakaan Deposit


Dikutip oleh Pustakawan Madya Dispusipda Jabar, Dra. Siti Mulyani
Artikel Terpopuler
15 Manfaat Membaca Buku dalam Kehidupan
15 Februari 2016 | Dilihat 17778 kali

Buku adalah jendela dunia, dan kegiatan membaca buku merupakan suatu…`

Alih Media Arsip
09 Juli 2015 | Dilihat 2971 kali

Tata cara alih media arsip berkaitan dengan aturan, kaidah, sistem…`

Peluang dan Tantangan dalam Penyelenggaraan Kearsipan di Jawa Barat
28 Desember 2017 | Dilihat 2028 kali

Oleh Abdur Rauf Hamidi, S.Ip, M.AP Arsiparis MudaDISPUSIPDA JabarDiera reformasi seperti…`

Facebook Page
Twitter Feed